Meisya Siregar Curhat Kronologi Anak Nyaris Tenggelam Terseret Ombak

Jakarta, dynamiccity Indonesia

Meisya Siregar

menceritakan momen ketika putra bungsunya nyaris tenggelam setelah terseret ombak saat bermain di pantai ketika berlibur di Bali, beberapa waktu lalu.

Meisya mengakui dirinya dan sang suami, Bebi Romeo, sempat lengah lantaran sudah merasa akrab dengan lokasi pantai yang selama beberapa hari menjadi tempat mereka berlibur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tempat itu bukan tempat asing, ibaratnya lingkungannya sudah kita kenal dan rasanya sudah kayak ‘di rumah sendiri’. Nah, itulah kelengahan kita,” kata Meisya Siregar seperti diberitakan

detikHot

pada Selasa (21/7).

“Yang namanya alam itu tidak pernah bisa kita prediksi, tidak pernah bisa kita lawan. Jadi kalau ditanya kenapa bisa terjadi, ya qadarullah, memang itu sudah jalannya,” lanjutnya.

Sebelum kejadian, si anak bungsu sempat meminta izin untuk kembali bermain di pantai seperti empat hari sebelumnya. Meisya mengaku sudah mengingatkan putranya agar hanya bermain di tepi pantai karena kondisi laut saat itu sedang pasang, dan sang anak pun manut.

Namun, insiden itu terjadi begitu cepat. Saat Meisya dan Bebi tengah berbincang dengan rekan-rekan mereka di area beach bar hotel, anak bungsunya itu terseret ombak tanpa mereka sadari. Beruntungnya, ada penjaga pantai yang sigap menolong anaknya itu.

Meisya menjelaskan area beach bar hotel berjarak cukup jauh dari bibir pantai, sekitar 400 meter lebih, sehingga mereka tidak menyangka putra mereka dapat terseret ombak.

Meisya mengaku sempat mengkhawatirkan kondisi psikologis anaknya setelah insiden tersebut. Ia sempat takut putra bungsunya itu mengalami trauma hingga enggan kembali bermain di pantai.

“Tapi masyallah-nya, besokannya alhamdulillah dia sudah tenang, sudah enak, dan dia malah yang ajak main ke pantai lagi,” kata Meisya.

“Kalau aku berdua sih harus berjiwa besar mengakui kalau ini adalah kelengahan kita sebagai orang tua. Malam itu perasaannya berkecamuk banget,” lanjutnya.

“Apalagi Bebi. Jadi enggak mau pisah tidur sama Bambang, padahal biasanya kan kamar kita beda sama anak-anak. Malam setelah kejadian itu, papanya enggak mau pisah,” Meisya.

“Mungkin selama liburan di sana aku banyak lalai. Namanya lagi di Bali, liburan, mungkin amalan yang biasanya dikerjain jadi kelewat, atau ada syubhat-syubhat yang dikerjain. Jadi ya sudah, aku anggap ini teguran murni dari Allah buat aku sama Bebi,” ujar

Meisya

.

Menurut Meisya, justru dirinya dan Bebi yang lebih banyak mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Ia memaknai insiden itu sebagai pengingat untuk lebih introspeksi dan memperbaiki diri sebagai orang tua.

Menurutnya, sebagai orang tua, ia mungkin sudah merasa maksimal melakukan berbagai hal yang dianggap terbaik untuk anak. Namun dengan kejadian tersebut, ia merasa masih jauh dari kata cukup sebagai orang tua.

“Masih banyak enggak sempurnanya. Aku menjadikan kesempatan yang Allah kasih ini sebagai pelajaran buat berbenah diri,” tuturnya.

“Memang kayaknya yang mau ditegur sama Allah itu orang tuanya, bukan anaknya. Jadi anaknya enggak kena dampak apa-apa, tapi target tegurannya ke orang tuanya, ‘Hei! Jangan sombong lu ngelepas anak lu begitu aja!'” lanjutnya.

(van/end)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video dynamiccity]

Baca lagi: Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp2,635 Juta per Gram Hari Ini

Baca lagi: Trump Getok Tarif 50 Persen ke Produk Impor Kanada

Baca lagi: FOTO: Sosok Bos Baru Hamas Khalil Hayya yang Jadi Target Baru Israel

5 Responses

  1. Penjelasan yang sangat menarik dan memberikan perspektif baru buat saya. Terima kasih banyak admin! Kebetulan saya juga nemu info serupa yang dibahas mendalam di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320543675_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297441916_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297539893_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297289339_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297133049_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320129065_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297314318_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296883726_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297266956_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297099185_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297422385_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297062887_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297256978_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297137983_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297533328_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297104409_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297374348_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297299967_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297020749_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320556779_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320593359_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320743614_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320480777_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320333750_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296956732_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320059738_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297519165_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320672786_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320383450_htm sebagai referensi tambahan.

  2. Wah, penjelasan yang luar biasa informatif. Sangat mencerahkan pikiran saya mengenai topik ini. Bagi yang sedang mencari bacaan pendukung, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297307881_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320054532_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320744417_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296976769_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297083647_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320539442_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297598718_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320230849_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297380767_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320010038_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297151729_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320194285_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296903891_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297337906_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296992091_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297605001_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320631288_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320076777_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297630108_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320058765_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296933778_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320052466_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296985672_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297490337_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297635282_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320505738_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297519019_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297595842_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320371849_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297121448_htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: